CLICK HERE FOR THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »
Tampilkan postingan dengan label My Family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Family. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Juli 2008

Liburan ke Pantai "PAPUMA" & Punya Adik Baru

Liburan minggu kedua ini kami sekeluarga pergi ke pantai "PAPUMA", kemarin di hari minggu kami mulai dg bangun pagi-pagi sekali dilanjutkan preparing some food and pakaian ganti. Ostosmastis jadi heboh buanget ada yang nyanyi ada yang nangis and pastinya ada yang teriak-teriak (siapa lagi 'lo bukan bunda).



Dari rumah memakan waktu kira-kira 1 jam untuk sampai ke sana. Lumayan capek sih tapi terbayar setelah liat laut. Buru-bura kakak lepasin celananya and ngajak ke pinggir pantai 'tuk cari kulit kerang. But adik agak takut malah teriak-teriak sambil angkat kakinya tinggi-tinggi. Ini kali pertama untuk adik ke laut jadi mungkin msh kaget aja "kok ada air yang lari lari ngejar aku ya...". Hahahaha....lucu juga liatnya sayang gak ada dokumentasi coz kamera ayah dipinjam teman untuk acara penting. Setelah cape' main -main dg air laut kita semua bersihin diri ma ganti baju bersih, laparlah perut ini. Dg jalan menyusuri jalanan pantai mata juga jeli cari tempat buat nongkrong buka bontotan. Akhirnya...ketemulah tempatnya, berbekal nasi dan mi instan (yg sdh dimasak lezat) plus martabak mie, kita juga pesan ikan kakap merah bakar ma air degan kopyor. Wuihh nikmatnya.. sambil makan dibawah pohon yang ringdang di bale-bale bambu (siapa yang pengen yo...). Aduh ma'af saking nikmatnya bunda 'mpe kekenyangan nih, kasian adik gak mau mamam cuma mik susu aja. Alhasil pulang di perjalanan ngantuk berat, berhubung cuma naek motorbike ya cuma bisa sliat sliut aja deh. Nyampe rumah bentar, ada kabar dr kung kalo tante dies sdh melahirkan. Eh...babynya gendut banget 3,950 kg, wow gede amat ya. Lucu deh kaya bayi umur 3 bulan.Ihhh... gemes banget ngliatnya. Sayang kita harus pulang dulu coz mata sdh gak bisa diajak kompromi lagi....

Read More......

Minggu, 29 Juni 2008

SHASA ULTAH....

Hari ini kakak ultah... Td pagi-pagi sekali bunda sdh kasih cium yang lamaaaaa buanget sampe dia terbangun.



Sambil msh merem kakak nanya "ada apa bun?".Gak terasa kakak udah umur 6 th, cepet ya jadi orang tua itu mang gak terasa. Yang penting selalu dinikmati aja. Tp ma'af ya kak untuk kali ini ayah ma bunda belum bisa ngerayain dl (lagi krisis nih...), tp tunggu aja ada kok hadiah dr ayah ma bunda menyusul. Tetaplah jadi anak pintar yang ceria, daaaan agak dilangsingin tuh badan, kok pertumbuhannya banyakan ke samping ya nah lo... kenapa ke atasnya dikit banget, jadi buntet hahahaha... Tapi anak bunda muanis kok.
Happy birthday shasa...
Semoga panjang umur selalu dan jadilah anak yang penurut ma orang tua

Read More......

LIBUR PANJANG...

Sudah satu minggu ini kakak libur, but 'lum bisa mana-mana. coz ayah gak bisa pulang 2 minggu ini. Biasa deh kena jadwal piket....



yang emang gak bisa dituker 'cuali mo bayar mahal. Sayang juga duit 50rb buat gantiin piket (sssstt....lagi tanggal tua). 'Benernya anak-anak sdh pada nungguin wat take a walk with ayah. Pa boleh buat deh liburan kakak sementara diisi ma bengong aje. Untungnya juga teman-temannya di rumah pada ada jadilah seharian dr mulai pagi 'mpe sore maen terus, sampe-sampe lupa mandi. Adek yang binun minta jalan-jalan sampe berurai air mata segala (biasalah si anak melankolis lg kangen ma ayah,hihihihi...kayak bundanya ya!). Tadi pagi ayah call janji kalo minggu depan pulang kita semua mo diajak ke Watu Ulo. Liat laut deh...
Biar kakak ma adek kenal ma laut. Oke...tunggu aja cerita berikutnya dr tamasya ya. Bunda mo tau reaksi anak-anak nih pada takut or berasa amazing gitu ya..?

Read More......

Senin, 23 Juni 2008

Apakah Muslimah Perlu Pendidikan?

Oleh: Siti Aisyah Nurmi


Dalam sebuah seminar keluarga sakinah, seorang peserta pria bertanya pada nara sumber yang juga pria: “Ustadz, menurut Ustadz untuk apa wanita sekolah tinggi-tinggi?”.




Entah karena apa, Ustadz tersebut memberi jawaban yang bahkan seperti tidak mendukung pendidikan tinggi bagi wanita. Di hari yang sama, seseorang berdiskusi dengan penulis seputar tulisan terdahulu tentang karir muslimah. Singkat kata, ia gamang apakah ia perlu terus bekerja sebagai dosen di perguruan tinggi yang jauh dari rumah sementara ia masih punya anak balita, ataukah lebih baik berhenti saja.

Untuk apa pendidikan? Sama saja dengan pertanyaan untuk apakah mencari ilmu? Apa saja manfaat ilmu? Pertanyaan yang tak perlu ditanyakan.
Sudah sangat banyak dibahas tentang besarnya pahala mencari ilmu dan mulianya pencari dan pengajar ilmu. Islam tidak diskriminatif dalam hal ini. Adalah Ummul Mu’minin ‘Aisyah ra yang dikenal sebagai ahli Thibbun Nabawi (Pengobatan Cara Nabi saw) dan beliau pula yang menguasai sangat banyak Hadits Nabi SAW dan sering menjadi rujukan bagi para sahabat mulia yang lain.

Kembali kepada pertanyaan pertama: Untuk apa wanita mencari ilmu?
Wanita punya tugas khusus nan mulia: mengandung, melahirkan, menyusui dan menjadi pendidik pertama setiap anak manusia. Oleh karena itu muslimah mempunyai tugas yang lebih mulia lagi yaitu menjadi pencetak generasi penerus Ummat.

Pernah ingat celotehan buah hati kita sehari-hari: “Ma, ini apa?” “Kenapa begitu, Ma?” dan seterusnya. Bayi-bayi kita, dari sejak mereka mulai belajar bicara, kitalah, para ibu, yang menjadi rujukan mereka. Bahkan sampai ke usia tertentu, anak belum bisa percaya pada orang lain.

Kemudian kita lupa kapan tepatnya mereka berhenti menjadikan kita sebagai rujukan. Kita bahkan mungkin tidak merasa kehilangan atas kebisuan mereka yang tidak lagi bertanya kepada kita. Tidakkah kita memikirkan dengan mendalam, apakah tempat rujukan anak-anak kita (setelah beralih dari kita) merupakan pihak yang bertanggung-jawab dalam memberikan jawaban? Apakah pihak-pihak tersebut tidak menyelewengkan jawaban yang berakibat rusaknya pola berpikir anak kita? Atau malah membohongi mereka demi kepentingan pihak-pihak tertentu?

Pertanyaan sederhana yang sering memusingkan banyak orangtua misalnya: “dari mana datangnya adik bayi?”. Jika tidak dijawab dengan bijaksana, pertanyaan seperti ini dapat menyebabkan seorang anak minimal bingung, maksimal tersesat dalam mensikapi masalah seks. Padahal di dalam khazanah ilmu-ilmu Islam ada Tarbiyatul Aulad (Pendidikan Anak) dengan sub bab khusus pembahasan Tarbiyah Jinsiyah (Pendidikan Gender/ Jenis Kelamin/ Sex Education). Beda lho, dengan pendidikan seks versi barat! Sebagian pemerhati pendidikan kini menengarai kebanyakan pendidikan seks bukan untuk mencegah perilaku seks bebas, tetapi malah mempromosikan seks bebas. Tentu Tarbiyah Jinsiyah bukan seperti itu.

Oleh karena itu seorang ibu muslimah harus faham Tarbiyatul Aulad.
Dari sisi lain, di dalam zaman ini, ilmu pengetahuan, teknologi informasi dan teknologi lain juga berkembang dengan sangat cepat. Penguasaan alat-alat pencarian informasi menjadi ketrampilan wajib mahasiswa masa kini. Di tengah dunia yang seperti ini, tidaklah memadai jika seorang ibu di kota metropolitan tidak mengerti bagaimana mengoperasikan komputer dan berselancar di dunia maya. Mengapa perlu?

Sebagai contoh sudah banyak seminar oleh para pakar yang mengkhawatirkan serangan budaya internet ini dalam kaitannya dengan situs-situs mesum yang merusak generasi muda. Ini baru satu judul masalah, sementara masih ada banyak lagi judul lain yang mengkhawairkan dalam budaya dunia maya.

Kita muslimah, sebagai penjaga Benteng Terakhir Ummat, harus punya sejumlah kiat antisipasi, sebagaimana layaknya penjaga benteng yang sedang berperang, kita harus tetap waspada. Ibu muslimah yang punya anak remaja tak boleh “gatek” (gagap teknologi). Jika “gatek”, maka ia tak mungkin menjalankan metode penting dalam Tarbiyatul Aulad yang disebut dengan metode Mulahazhoh (Metode Kontrol/Pengawasan). Ada 5 metode pendidikan yang penting dalam Tariyatul Aulad, kelima-limanya harus dijalankan dengan seksama karena saling melengkapi.

Begitulah. Muslimah amat-sangat-amat sangat perlu menguasai ilmu dan pengetahuan serta ketrampilan. Terlalu sempit ruang yang ada dalam rubrik ini untuk membahas tuntas betapa pentingnya muslimah memiliki pendidikan yang baik. Perlu “tinggi” ‘kah?

Sebelum membahas berapa tingginya yang boleh, bahkan ada batas minimal yang harus dimiliki. Muslimah setidaknya harus memiliki pengetahuan dasar dari dua cabang besar pengetahuan di dunia ini. Yang dimaksudkan dengan pengetahuan dasar (basic knowledge) adalah tingkat pengetahuan yang ia butuhkan untuk menjalankan hajat hidupnya dengan baik. Jika ia seorang ibu, maka basic knowledge-nya harus mencakup pengetahuan dasar sebagai ibu. Jika ia seorang petani pedesaan maka sebagai muslimah petani ia harus punya basic knowledge-nya yang sesuai.Dua cabang besar yang dimaksud di sini adalah cabang ilmu alat/ ketrampilan untuk kehidupan dunia, dan cabang satu lagi adalah cabang ilmu Islam yang mencakup ilmu keimanan, ilmu ibadah, dan ilmu mu’amalah.

Jika sebagai seorang petani mustahil ia sukses tanpa ilmu bercocok tanam, maka sebagai hamba Allah, mustahil masuk Surga kalau tidak tahu bagaimana melakoni hidup dengan keimanan. Keduanya adalah basic knowledge bagi petani muslim yang ingin selamat dunia akhirat. Ilmu mu’amalah juga perlu ia fahami sehingga ia misalnya mampu mengenali perdagangan sistem “ijon” yang haram dalam Islam.

Muslimah harus menguasai basic knowledge dalam dunianya sesuai dengan zamannya. Sejak bagaimana kiat hemat energi dalam rumahtangga hingga mampu mengenali berbagai bentuk perdagangan yang halal maupun haram yang ditawarkan para sales dari rumah ke rumah. Bahkan dengan perkembangan teknologi pangan yang pesat, muslimah harus tahu berbagai kemungkinan produk haram masuk ke dapur dan meja makannya. Minimal tahu bagaimana mencari rujukan.

Itu baru kebutuhan basic knowledge yang semua muslimah harus memilikinya, belum lagi kita bicara tentang pemanfaatan potensi bagi muslimah-muslimah yang dikaruniai berbagai bakat oleh Allah SWT. Sudah barang tentu, setiap potensi harus dimanfaatkan dengan baik untuk kemaslahatan ummat. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara muslimah menjalankan pemanfaatan tadi agar tidak menabrak fitrahnya dan tidak melanggar aturan Islam yang lain.


Ada ungkapan: Ibu adalah sekolah. Maka, jika sekolah yang disediakan tidak bermutu, bagaimana para pelajarnya akan maju? Wallahu’alam (SAN)

Read More......

Minggu, 22 Juni 2008

Mengingat Kematian

Oleh Ihsan Tandjung

Sesungguhnya di antara hal yang membuat jiwa melantur dan mendorongnya kepada berbagai pertarungan yang merugikan dan syahwat yang tercela adalah panjang angan-angan dan lupa akan kematian.



Oleh karena itu di antara hal yang dapat mengobati jiwa adalah mengingat kematian yang notabene merupakan konsekuensi dari kesadaran akan keniscayaan keputusan Ilahi, dan pendek angan-angan yang merupakan dampak dari mengingat kematian. Janganlah ada yang menyangka bahwa pendek angan-angan akan menghambat pemakmuran dunia. Persoalannya tidak demikian, bahkan memakmurkan dunia disertai pendek angan-angan justeru akan lebih dekat kepada ibadah, jika bukan ibadah yang murni.

Rasulullah saw bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

“Orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian.” (HR Tirmidzi)

Persiapan untuk menghadapi sesuatu tidak akan terwujud kecuali dengan selalu mengingatnya di dalam hati, sedangkan untuk selalu mengingat di dalam hati tidak akan terwujud kecuali dengan selalu mendangarkan hal-hal yang mengingatkannya dan memperhatikan peringatan-peringatannya sehingga hal itu menjadi dorongan untuk mempersiapkan diri. Kepergian untuk menyambut kehidupan setelah kematian telah dekat masanya sementara umur yang tersisa sangat sedikit dan manusiapun melalaikannya.

اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ

“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).” (QS Al-Anbiya 1)

Orang yang tenggelam dengan dunia, gandrung kepada tipu-dayanya dan mencintai syahwatnya tak ayal lagi adalah orang yang hatinya lalai dari mengingat kematian; ia tidak mengingatnya bahkan apabila diingatkan ia tak suka dan menghindarinya. Mereka itulah yang disebutkan Allah di dalam firman-Nya:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Katakanlah, "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Al-Jumu’ah 8)

Kemudian manusia ada yang tenggelam ke dalam dunia, ada pula yang bertaubat dan ada pula yang arif.

Pertama: adapun orang yang tenggelam ke dalam dunia, ia tidak mengingat kematian sama sekali. Jika diingatkan ia mengingat semata-mata untuk menyesali dunianya dan sibuk mencelanya. Baginya, mengingat kematian hanya membuat dirinya semakin jauh dari Allah.

Kedua: Adapun orang yang bertaubat, ia banyak mengingat kematian untuk membangkitkan rasa takut dan khawatir pada hatinya lalu ia menyempurnakan taubat dan kadang-kadang tidak menyukai kematian karena takut disergap sebelum terwujud kesempurnaan taubat dan memperbaiki bekal. Dalam hal ini ia dimaafkan dan tidak tergolong ke dalam sabda Nabi saw:

مَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ

“Barangsiapa membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah membenci pertemuan dengannya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Karena sesungguhnya ia tidak membenci kematian dan perjumpaan dengan Allah, tetapi hanya takut tidak dapat berjumpa dengan Allah karena berbagai kekurangan dan keteledorannya. Ia seperti orang yang memperlambat pertemuan dengan kekasihnya karena sibuk mempersiapkan diri untuk menemuinya dalam keadaan yang diridhainya sehingga tidak dianggap membenci pertemuan. Sebagai buktinya ia selalu siap untuk menemuinya dan tidak ada kesibukan selainnya. Jika tidak demikian maka ia termasuk orang yang tenggelam ke dalam dunia.

Ketiga: Sedangkan orang yang ‘arif, ia selalu ingat kematian karena kematian adalah janji pertemuannya dengan kekasihnya. Pecinta tidak akan pernah lupa sama sekali akan janji pertemuan dengan kekasihnya. Pada ghalibnya orang ini menganggap lambat datangnya kematian dan mencintai kedatangannya untuk membebaskan diri dari kampung orang-orang yang bermaksiat dan segera berpindah ke sisi Tuhan alam semesta. Sebagaimana diriwayatkan dari Hudzaifah bahwa ketika menghadapi kematian, ia berkata:
“Kekasih datang dalam kemiskinan, semoga tidak berbahagia orang yang menyesal. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa kemiskinan lebih aku cintai dari kekayaan, sakit lebih aku cintai dari kesehatan, dan kematian lebih aku cintai dari kehidupan, maka permudahlah kematian atas diriku agar segera dapat berjumpa dengan-Mu”

Jadi, orang yang bertaubat dimaafkan dari sikap tidak menyukai kematian sedangkan orang yang ‘arif dimaafkan dari tindakan mencintai dan mengharapkan kematian. Tingkatan yang lebih tinggi dari keduanya ialah orang yang menyerahkan urusannya kepada Allah sehingga ia tidak memilih kematian atau kehidupan untuk dirinya. Apa yang paling dicintai adalah apa yang paling dicintai kekasihnya. Orang ini melalui cinta dan wala’ yang mendalam berhasil mencapai maqam taslim dan ridha, yang merupakan puncak tujuan. Tetapi bagaimanapun, mengingat kematian tetap memberikan pahala dan keutamaan. Karena orang yang tenggelam ke dalam dunia juga bisa memanfaatkan dzikrul maut untuk mengambil jarak dari dunia sebab dzikrul maut itu membuat dirinya kurang berselera kepada kehidupan dunia dan mengeruhkan kemurnian kelezatannya. Setiap hal yang dapat mengeruhkan kelezatan dan syahwat manusia adalah termasuk sebab keselamatan. Rasulullah saw bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ

“Perbanyaklah mengingat penghancur berbagai kelezatan, yaitu kematian.”
(HR Tirmidzi, Nasaa’I dan Ibnu Majah)

Artinya, kurangilah berbagai kelezatan dengan mengingat kematian sehingga kegandrungan kamu kepada berbagai kelezatanterputus lalu kamu berkonsentrasi kepada Allah, karena mengingat kematian dapat menghindarkan diri dari kampung tipudaya dan menggiatkan persiapan untuk kehidupan akhirat, sedangkan lalai akan kematian mangakibatkan tenggelam dalam syahwat dunia, sabda Nabi saw:

تحفة المؤمن الموت

“Hadiah orang mu’min adalah kematian.” (HR Thabrani dan al-Hakim)

Nabi saw menegaskan hal ini karena dunia adalah penjara orang mu’min, sebab ia senantiasa berada di dunia dalam keadaan susah mengendalikan dirinya, menempa syahwatnya dan melawan syetannya. Dengan demikian, kematian baginya adalah pembebasan dari siksa ini, dan pembebasan tersebut merupakan hadiah bagi dirinya. Nabi saw bersabda:

الموت كفارة لكل مسلم

“Kematian adalah kafarat bagi setiap muslim.” (HR al-Baihaqi)

Yang dimaksudnya adalah orang muslim sejati yang orang-orang muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya, yang merealisasikan akhlaq orang-orang mu’min, tidak terkotori oleh berbagai kemaksiatan kecuali beberapa dosa kecil, sebab kematian akan membersihkannya dari dosa-dosa kecil tersebut setelah ia menjauhi dosa-dosa besar dan menunaikan berbagai kewajiban. Sebagian kaum bijak bestari menulis surat kepada salah seorang kawannya:
“Wahai saudaraku hati-hatilah terhadap kematian di kampung ini sebelum kamu berada di sebuah kampung di mana kamu berharap kematian tetapi tidak akan mendapatkannya.”

Read More......

Pengantar "Undangan ke Surga"

وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيم

”Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).”
(QS Yunus ayat 25)



Setiap muslim adalah orang yang beruntung. Karena Allah telah melimpahkan kepada dirinya ni’mat paling istimewa yang bisa diterima seorang manusia. Ia telah memperoleh ni’mat Iman dan Islam. Apakah ada ni’mat yang melebihi ni’mat Iman dan Islam? Demi Allah, tidak ada!

Namun demikian, tidak semua muslim menyadari betapa istimewanya ni’mat ini. Sehingga dengan segala rasa hormat kepada sesama saudara seiman, kita seringkali terpaksa menyaksikan penampilan sebagian saudara muslim kita yang sungguh jauh dari ekspresi hadirnya ni’mat Iman dan Islam tersebut. Coba perhatikan ayat di atas. Bagaimana Allah subhaanahu wa ta’aala firmankan bahwasanya Dia-lah yang menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam) ini...

Artinya, tidak setiap manusia memperoleh privilige (keistimewaan) lux ini. Dan kita –Alhamdulillah- termasuk yang dikendaki Allah memperoleh petunjuk...... Bayangkan, saudaraku! Padahal ungkapan syukur kita masih sangat minim untuk layak memperoleh keistimewaan mewah ini... Kadang kita termenung sendiri mengingat betapa sedikitnya ’amal-ibadah kita kepada Allah, masih sedikitnya ’amal-sholeh kita kepada sesama manusia hamba-hamba Allah...

Padahal masih ada satu perkara lain yang Allah sediakan untuk seorang muslim bilamana ia pandai mensyukuri ni’mat istimewa ini.... Allah menyeru atau mengundang setiap muslim yang benar imannya menuju Darus-salaam atau negeri kedamaian, yakni surga.... Subhaanallah...! Tahukah Anda, saudaraku, apa itu surga? Surga adalah tempat tinggal abadi yang di dalamnya sarat dengan kesenangan hakiki...BUKAN kesenangan menipu seperti yang kita alami di dunia fana ini...

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ
وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

"Aku persiapkan utk hamba-2Kuyangsholeh apayangtak pernah terlihat mata, terdengar telinga & terlintas dalam hati." (Hadist Qudsy riwayat Imam Muslim #5050)

Bagaimana caranya agar kita berhak memperoleh ticket to paradise? Pandai-pandailah bersyukur akan ni’mat Iman dan Islam, niscaya kita berhak masuk surga. Jadilah seorang muslim-mu’min sejati. Ungkapakan iman dan Islam dalam bentuk banyak ‘amal-ibadah kepada Allah dan aneka ‘amal-sholeh kepada sesama manusia, niscaya kita berhak masuk surga....

Bahkan lebih jauh daripada itu ajaklah orang lain untuk menjadi beriman bersama diri kita, niscaya kita berhak masuk surga. Jadilah penyeru di jalan Allah yang mengajak manusia menuju Darus-salaam dengan memberikan penjelasan mengenai manisnya iman dan petunjuk Ilahi. Jangan biarkan syetan menggoda kita menjadi orang beriman egois dengan bisikannya:”...biarkan orang lain kalau ingin masuk neraka.....yang penting kamu masuk surga...” Seolah surga hanya tempat yang layak bagi diri kita semata, sedangkan orang lain terserah mereka... Na’udzubillahi min dzaalika... Ini sangat jauh dari spirit teladan kita Nabi Muhammad shollallahu ’alaihi wa sallam yang merupakan Rahmatan lil’aalamiin (rahmat bagi semesta alam).

Nabi Muhammad shollallahu ’alaihi wa sallam merupakan da’i sempurna yang ambisi utamanya adalah ”menginginkan keimanan dan keselamatan” atas setiap manusia...

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ
حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu'min.” (QS At-Taubah 128)

Nabi Muhammad shollallahu ’alaihi wa sallam sangat sadar dan faham bahwa hanya dengan menanamkan iman ke dalam diri seseorang, maka orang itu akan meraih keselamatan di dunia dan di akhirat… Hanya melalui pintu iman-lah seseorang akan sampai ke pelabuhan keni’matan dan kesenangan hakiki, yakni surga di akhirat yang kekal nanti. Semoga, saudaraku.-

Read More......

Sabtu, 21 Juni 2008

BERDZIKIR

Ciri khas orang yang berzikir antara lain : bicaranya dakwah, diamnya zikir, nafasnya tasbih, matanya rahmat dan pikirannya husnudzhan (baik sangka).
Selain itu, tanda yang lain yaitu : hatinya do’a , tangannya sedekah, kakinya jihad, kekuatannya silaturrahim, kerinduannya syari’at Allah dan kesibukannya asyik memperbaiki diri (introspeksi) .

(KH.Arifin Ilham)




Read More......

Kamis, 19 Juni 2008

BUNGAKU

Bungaku…
Kala pagi atau sore hari
Kau taburkan aroma kasih
Membelai kalbu selembut awan putih
Membawaku ke alam khayalan indah
Penuh kedamaian dan kebahagiaan

Bungaku…
Kau laksana dewi kayangan
Selalu dipuji setiap orang
Sunggingan senyummu tak menjemukan
Menggoda mengetarkan hati

Bungaku…
Setiap saat aku nantikan
Lambaian tanganamu mengajakku
Melepas semua kepedihan hidup
Menyandarkan semua kesusahan
Menuju ketenangan bathin
Dalam menikmati hidup ini




Read More......

,,,LOVE,,,

Di dalam kedinginan jiwaku
Kau hadir mendekap erat kalbuku
Dalam kesendirian nuraniku
Kau temani aku dengan kemesraan

Dalam kegalauan jiwaku
Kau hadir untuk menghiburku
Dalam kesepian malamku
Kau hadir dalam indahnya mimpiku

Tiada yang kupikirkan selama ini
Kecuali aku merasa berarti bersamamu
Kan kuayun langkahku ini
Bersama irama kerinduan

Kangen khan slalu menyelimuti hatiku
Tak ada sesuatu terindah untukku
Karena kau segala-galanya bagiku

By: bunda



Read More......

"Sambutlah CINTA"

Saat malam mulai larut
Suasanapun semakin senyap
Aku terbujur dalam kekakuan
Karena hati terpasung dalam kesepian
Kesedihan dengan kesendirian
Seakan menggugurkan sejuta harapan

Sepinya malam berlalu sudah
Pagi datang mengawali hari baru
Aku terbangun dari panjangnya malam
Perlahan aku bergerak,
Berdiri dan kubuka jendela
Tersiratlah cahaya mentari pagi
Menyinari……
Menghempaskan semua khayalan kepahitan

Memang, Aku harus tetap tegar berdiri
Songsong hari yang baru
Sambut dengan sesuatu yang indah
Wujudkan misteri cita dan cinta
Sambutlah ‘si CINTA’ yang cantik
Berikan dia senyum
Warnailah hari-hari dengan cinta




Read More......

Rabu, 18 Juni 2008

my poet......

mentari memancarkan panas
bersinar terang tanpa berselimutkan awan




menghantarkan bisik jelas
semangatkan jiwa dan raga

ditemani semilir sejuk dedaunan di dahan
tak terasa kantuk mulai hinggap
saat penat menyapa raga
jiwa ini butuh telaga
untuk reguk jernihnya rasa

ohhhh....Tuhan
hanya Engkau tempat labuhan hamba
saat lelah dan penat hampiri jiwa

letih...letih...letih
Kau selalu dengar bisik rintihan ini
yang kadang menjerit karena derita dan sedih
Kau kuatkan hamba jalani
semua ujian hidup di dunia fana ini


by: bunda

Read More......

Jumat, 13 Juni 2008

Cemara

Sudah lama cemara itu diranggas dedaunan
Sering kita menghinggpinya




Hanya aku dan kau
Ya... dua ekor capung indah

Kalau malam tiba nanti
Sayap-sayap kita akan lepas
Menggelepak di bumi

Dan terbit nanti
Meski hanya satu kali

Kemudian tubuh kita terpecah belah
Di langit dan sekitar cahaya
Hingg selesailah tugas kita
Menjadi capung
Ingatan dan
Cinta..........

Read More......

Dzikir Air

jadikan aku air saja
menuruti lekuk wadah yang tengadah......




mengikuti relief bumi
lalu menjelajah ke tempat rendah
doakan sungai tang tertanggul
agar sampai aku pada muara yang lelah

biarkan aku jadi bagian dr laut
maka pada anginlah aku turut
dikirim ke pantai sebagai ombak sepanjang musim
atau merenung di dasar palung
sambil berharap untuk segara menguap

maka di udara panas izinkan aku lepas
dan kirim aku pada dataran waswas
agar kupenuhi mataku raba dengarku
lalu kusampaikan pada tanah tempatku singgah
pada desa,kota, dan orang-orang yang lelah
atau pada seseorang yang merindukan nyaman sebagai garis lirih yang tipis
maka, izinkan aku jatuh sebagai gerimis

by: Gema Yudha

Read More......

Kamis, 12 Juni 2008

Ziarah Cinta......

aku tidak sedang ziarah di hatimu
karena kutahu cintamu tak mati




walau sejuta tanda kabung
terus digantung di pintu dukaku yang murung
aku juga tidak sedang berpamitan
untuk kembali menjemput janji
pun tidak untuk puisi yang kutulis sendiri
bersama mereka yang berdoa
aku datang untung mengobati luka
agar dada hasratku tidak pecah
dan sayap-sayap rinduku
tidak lepas hanya karena patah

Read More......

Senin, 02 Juni 2008

Tiga Cara Bersyukur

''Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'' (QS Alnahl [16]: 18).




Para ulama mengemukakan tiga cara bersyukur kepada Allah. Pertama, bersyukur dengan hati nurani. Kata hati alias nurani selalu benar dan jujur. Untuk itu, orang yang bersyukur dengan hati nuraninya sebenarnya tidak akan pernah mengingkari banyaknya nikmat Allah. Dengan detak hati yang paling dalam, kita sebenarnya mampu menyadari seluruh nikmat yang kita peroleh setiap detik hidup kita tidak lain berasal dari Allah. Hanya Allahlah yang mampu menganugerahkan nikmat-Nya.

Kedua, bersyukur dengan ucapan. Lidahlah yang biasa melafalkan kata-kata. Ungkapan yang paling baik untuk menyatakan syukur kita kepada Allah adalah hamdalah. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, ''Barangsiapa mengucapkan subhana Allah, maka baginya 10 kebaikan. Barangsiapa membaca la ilaha illa Allah, maka baginya 20 kebaikan. Dan, barangsiapa membaca alhamdu li Allah, maka baginya 30 kebaikan.''

Ketiga, bersyukur dengan perbuatan, yang biasanya dilakukan anggota tubuh. Tubuh yang diberikan Allah kepada manusia sebaiknya dipergunakan untuk hal-hal yang positif. Menurut Imam al-Ghazali, ada tujuh anggota tubuh yang harus dimaksimalkan untuk bersyukur. Antara lain, mata, telinga, lidah, tangan, perut, kemaluan, dan kaki. Seluruh anggota ini diciptakan Allah sebagai nikmat-Nya untuk kita. Lidah, misalnya, hanya untuk mengeluarkan kata-kata yang baik, berzikir, dan mengungkapkan nikmat yang kita rasakan. Allah berfirman, ''Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).'' (QS Aldhuha [93]: 11).

Read More......